Aksi
unjuk rasa menolak kenaikan BBM terjadi di seluruh Indonesia, tidak
ketinggalan Kab. Poso. Sulawesi Tengah. Kenaikan ini, menurut HMI Kab.
Poso, mempengaruhi beberapa aspek yakni politik, ekonomi, sosial politik
dan birokrasi.
“Isu
kenaikan BBM ini dapat merupakan pengalihan dari isu-isu yang ada
seperti korupsi dan rekening gendut ditambah dengan permainan politik
pencitraan,” ujarnya.
Dikatakannya,
ada kesamaan kebijakan dari pemerintah pada tahun 2008 dan 2012 yakni
mengadakan kompensasi Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun pada tahun
ini, pemerintah mungkin akan memberikan Bantuan Langsung Sementara
Masyarakat (BLSM).
“Hal
ini menunjukkan pemerintah memperhatikan rakyat kurang mampu, tetapi
yang menjadi permasalahan adalah kompensasi ini tidak tepat sasaran,”
tambahnya.
Dalam
aksinya, HMI Kab. Poso memberikan beberapa solusi untuk mengatasi
kenaikan BBM antara lain Pemerintah harus mengurangi biaya birokrasi
seperti mengurangi gaji Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), mengurangi gaji
presiden dan PNS jikalau mau. Menghemat pemakaian BBM. Jika BBM naik,
Upah Minimum Regional (UMR) dan sistem penggajian lainnya juga naik maka
akan menolong kepada penanganan masalah kebutuhan. Merealisasikan
sistem ekonomi kreatif yang bisa mendukung dan memfasilitasi masyarakat
untuk kreatif dan menambah nilai produk dalam negeri yang berdaya jual
tinggi.
Ketika
di Polres Poso, Kapolres Poso, AKBP Pulung Rahmadianto menyampaikan
bahwa pihak Polres Poso sudah dari 2 minggu yang lalu melakukan
koordinasi dengan Depot Pertamina Poso dan instansi terkait lainnya
dalam menyikapi dan mengamankan jelang kenaikan BBM. “Kami sudah
melakukan baik pengamanan tertutup maupun terbuka dalam mengamankan dan
mengawasi SPBU di Kab. Poso. Harap laporkan kepada Polres Poso, jika
menemukan penyimpangan dan penimbunan BBM di Kab. Poso,” tandasnya.
![]() |
Pada
saat beraudiensi di Kantor DPRD Kab. Poso, massa aksi diterima langsung
oleh Bpk. Jani. T. Mamuaja (Ketua DPRD Kab. Poso) yang mengatakan bahwa
isu kenaikan BBM masih belum pasti, karena di DPR sendiri masih ada
partai yang menolak kenaikan BBM, yakni PDIP. Ibu Megawati Soekarnoputri
menyampaikan kepada kader-kadernya untuk menolak kenaikan BBM. Pihaknya
akan menyampaikan aspirasi massa AKSI kepada DPRD Propinsi, Bupati Poso
dan Anggota DPRD lainnya.
Massa aksi meminta tanda tangan dari para anggota DPRD sebagai bentuk dukungan gerakan menolak kenaikan BBM. Adapun anggota DPRD yang bertanda tangan antara lain Baharuddin Sapi'i (Fraksi PPP), Burhanudin Hamzah (Fraksi PBR), Amir Kusa (Fraksi PKS), Hidayat Bungasawa (Fraksi PDP). (Danu)
sementara ketua DPR sendiri tidak barani membubuhi tanda tangan di spanduk sebagai bentuk penolakan kebijakan pemerintah beliau beralasan bahwa adanya keterikatan partai. hal ini lah yang membuat kader-kader HMI merasa kecewa sebab penandatanganan itu bukan atas nama partai tapi atas nama Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat.
berikut video aksi HmI Cabang Poso







